Tampilkan postingan dengan label Praktika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Praktika. Tampilkan semua postingan

2021/10/08

Bara di Tengah Dingin yang Beku

 

Gunung Semeru (sumber: Kompas.com)

"Alhamdulillah. Terima kasih, Pak, pencerahannya. Sedikit demi sedikit pikiran saya jadi terbuka. Insyaallah, saya menunggu pelatihan jilid 2-nya, Pak."

Begitu, sepenggal kesaksian lugas Bu Farida. Nama lengkapnya, Farida Umaternate. Bu Guru dari Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara ini menjadi salah satu peserta pelatihan menyusun soal HOTS (Higher Order Thinking Skills). Pelatihannya berlangsung secara daring melalui salah satu platform media sosial. Jumlah pesertanya 104, terdiri dari guru-guru se-Nusantara. Ada guru PAUD, SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA. Ada pula yang berasal dari yayasan dan balai diklat. Mungkin mereka widyaiswara, instruktur, atau semacamnya.

2021/09/20

Melipatgandakan Hasil Belajar melalui Pembelajaran Kooperatif

 

Siji loro telu tangane sedheku,

mirengake Bu Guru menawa didangu.

Papat nuli lima lenggahe sing tata,

aja padha sembrana mundhak ora bisa.

2021/03/12

The Power of Dipaksa

Lebih dulu saya mesti menjelaskan, “dipaksa” (setidaknya, di dalam tulisan ini) berbeda makna dari “terpaksa”. 

  1. “Karena tak punya uang, terpaksa saya berjalan kaki sambil memanggul sekarung gaplek dari rumah sampai pasar.” (Berjalan kaki menjadi keniscayaan, satu-satunya pilihan, tak ada kesanggupan lain pada diri saya.)
  2. “Gara-gara memecahkan kendi yang baru dibeli istri, saya dipaksa berjalan kaki dari pasar sampai rumah.” (Berjalan kaki menjadi konsekuensi yang dipilih oleh pihak lain; sebenarnya ada kesanggupan lain pada diri saya.)


Di balik itu, tiba-tiba saya berhasil mengunyah lumat dua (calon) buku (untuk yang ini, tak usah saya tag nama; nanti malah viral). Masing-masing butuh waktu kurang dari 2 x 24 jam. Sebab apa gerangan? Lantaran saya DIPAKSA. Sebenarnya bukan dipaksa untuk membaca kedua manuskrip itu, melainkan “dipaksa” untuk “berbuat sesuatu” terhadap mereka—izinkan saya memperkenalkan pemakaian “mereka” sebagai pengganti benda jamak nonmanusia. 

Murid-murid perlu dipaksa membaca; oleh siapa? Pengasuh murid-murid perlu dipaksa membaca; oleh siapa? Pengasuhnya pengasuh murid perlu dipaksa membaca; oleh siapa? Siapa tahu, di antara sidang Pembaca ada yang berkedudukan sebagai salah satu “SIAPA” itu.

Jadi terkenang juga, pengalaman masa SMP. Tiap malam menjelang ada jadwal pelajaran IPS, saya berjibaku membaca salah satu di antara tiga buku: ekonomi, geografi, atau sejarah. Ketiga-tiganya bukan objek minat saya. Apa yang membuat saya rela bersusah payah membaca mereka? Kalau tidak membaca, di kelas hanya plonga-plongo. Pak Kardi—semoga Tuhan mengampuni dan merahmati beliau—suka membuat kami gelagapan. “Keluarkan kertas (kosong)! Tulis apa yang kamu baca tadi malam!” Begitu instruksi beliau, yang sering diulang dari hari ke hari.

Entah, masih ada berapa eksemplar buku yang tertumpuk di laci. Semua pemberian teman. Beberapa dikirim atas permintaan saya. Sebagian besar yang lain hadir atas kemurahhatian teman-teman. Mungkin saya disangka doyan membaca. Padahal, sejatinya saya ini pemalas. Atau, tepatnya: pembaca yang malas.

Untuk mendobrak kemalasan itu, saya sempat menghukum diri: menunda pengambilan buku pesanan sebelum lunas utang membaca seluruh buku yang sudah teronggok antre untuk dibuka. Tapi ternyata ulah ini berekses: penerima pesanan pontang-panting. Maafkan saya, Pak Handry Tm, atas ketidaknyamanan akibat eksperimen saya. Masih ada satu hibah yang tertahan, sudah lebih lama bahkan. Kesempatan mampir juga sudah datang beberapa kali. Tapi saya tahan demi bersetia menjalani hukuman dari, oleh, dan untuk diri sendiri itu. Maafkan saya juga, Pakde Parpal Poerwanto.

Jadi teringat semasa sekolah. Mengakhiri kelas “Pemahaman Lintas Budaya (CCU = Cross Cultural Understanding)”, Pak Guru memberikan tugas. Kami harus membedah komparasi antara dua budaya: manca vs domestik. Empat atau lima (saya lupa persisnya) buku seri mengenal negeri manca itu—oleh-oleh yang beliau bawa pulang selepas lulus doktor di negeri seberang—dipinjamkan. Lupa bagaimana prosesnya, saya ketiban sampur untuk medhar gagasan komparasi dua budaya itu di depan khalayak lintas jurusan. Simsalabim, lumat juga seluruh buku itu dalam kurun tak lebih dari seminggu. Itu rekor kecepatan saya membaca. Hebohnya lagi, salah satunya berisi sejarah peradaban bangsa manca itu. Ya, sejarah, sesuatu yang tak pernah singgah di etalase minat saya.

Boleh jadi, tugas-tugas yang memaksa saya membaca itu disengaja sebagai modus belaka. Motif sejatinya justru yang tersembunyi: agar saya membaca! Guru-guru bestari itu sebenarnya hanya hendak mengingatkan saya bahwa membaca itu tak pernah sia-sia. Pun mereka seperti berhasil membaca sifat saya: malas membaca. Atau, seperti tadi: pembaca yang malas. Bisa membaca, tapi malas.

Saya jadi curiga: jangan-jangan sifat ini bukan monopoli saya. Gek-gek banyak (sekalipun bukan kebanyakan) pembaca malas serupa saya. Kalau ya, berarti jurus memaksa orang membaca itu perlu disebartularkan.

Ah, tulisan bertele-tele ini pun sesungguhnya hanya modus. Pesan yang tersembunyi: ayolah, Kawan ... paksa anak-anak asuhan Anda membaca. Terapkan aneka jurus, sesuka Anda.

 

*) Tulisan ini diadaptasi dari https://www.facebook.com/kangteguhgw/posts/4397766656917324

 

2020/11/27

Melacak Catatan di Facebook

Ini tulisan tidak lazim. Isinya semacam tutorial. Pemantiknya, status Facebook (Fb)-nya Kang Putu Gunawan Susanto yang saya dapati sore ini. Beliau memprotes Fb lantaran menghilangkan halaman Catatan (Notes) dari fiturnya. Saya pun pernah mengalami kekecewaan serupa, 6 November yang lalu. Bedanya, protes Kang Putu disertai kebingungan akibat gagal menemukan catatan-catatannya yang sebelumnya pernah dibuat, disimpan, dan mungkin dipublikasikan.

2020/11/24

Selisih yang Mulai Terasa

Barisan pendidik muda yang terdidik dan bertalenta

Tak terasa. Ternyata saya sudah menua. Hari ini kesan itu begitu terasa. Sontak saya ingin mengaca. Terbayang wajah saya setua Pak Wanada--yang sempat menyangka saya putra penggawa--32 tahun yang lalu, ketika saya masih berkostum putih abu-abu. Tapi jelas, hingga hari ini jiwa saya terlalu jauh untuk menyetarai kedewasaan beliau kala itu.

2020/11/20

Guru SI JURNALIS Berguru kepada Jurnalis SANG GURU

Jurnalis SANG GURU Edhie Prayitno Ige di Depan 25 Guru SI JURNALIS

Srondol Wetan, 18 November 2020

Bermental penantang! Itu barangkali label yang pas untuk menggambarkan spirit guru-guru ini. Betapa tidak? Dua pekan sebelumnya, seorang provokator berulah di grup WhatsApp komunitas mereka. Begini provokasinya:

STOP PRESS

2019/09/03

Review Konten Rumah Belajar dengan StT dan TtS

Me-review konten Rumah Belajar menjadi tugas tambahan dalam Virtual Coordinator Training (VCT) Batch-5. Peserta diminta me-review dua konten Rumah Belajar. Review-nya disajikan dengan menggunakan aplikasi Text to Speech (TtS) dan Speech to Text (StT). Proses pembuatan TtS dan StT direkam dengan peranti perekaman layar (screen recorder). Video hasil rekamannya diunggah ke YouTube.

2019/06/25

Tak Ada Murid Tak Pintar

Dia itu salah satu murid saya. Murid ilmu per-SOAL-an. Mulai dari nol. Besar. Dulu dia suka menyodorkan soal. Sudah jadi naskah sepaket. Minta disuntingkan. Saya baca sekilas. Lalu saya tanyakan: mana kisi-kisinya? Terbelalaklah si empunya soal.

Bahasa Indonesia 1: Mengajak dan Minta Maaf

Catatan:

1. Bahasa adalah alat komunikasi. Uji keterampilan mengungkapkan ajakan, permintaan maaf, dan sebagainya akan lebih bermakna jika disajikan dalam konteks komunikasi aktual, misalnya berupa teks percakapan. Pada soal nomor 1, bagaimana bila ada siswa memilih opsi jawaban c? Persepsinya sebagai berikut. Edo adalah anak yang berdiri membawa bola, sedangkan tokoh yang mengungkapkan ajakan adalah anak yang duduk bersandar pada pohon. Dia sedang bersembunyi di balik pohon dalam permainan petak umpet. Melihat Edo lewat membawa bola, dia mengajaknya untuk ikut bermain petak umpet saja. Begitulah, gambar tunggal itu multitafsir. Tidak adil kiranya jika jawaban c serta merta dianggap salah tanpa konfirmasi penalaran si pemilih opsi. Nah, teks percakapan berfungsi sebagai pewatas konteks.

2. Pokok soal uraian dinyatakan dalam kalimat tanya atau kalimat perintah. Pernyataan rumpang seperti soal nomor 2 di atas merupakan konstruksi soal isian (singkat).

Demikian, terima kasih dan mohon maaf. 

Disalin dari:https://klinik-soal.blogspot.com/2018/02/bahasa-indonesia-1-mengajak-dan-minta.html

Kawan Melawan


Kawan Melawan
Kang Gw

petarung petarung naik panggung
cita cita ramai diusung
gemuruh sorak kaum pendukung
bersahut sahut pekik menggaung

Ulah Radikal dalam Merawat Kompetensi Guru

Menggemaskan! Itu kesan saya tentang modus pendidikan di negeri tetangga. Tetangganya Timor Leste. Betapa tidak? Ups, tahan dulu. Nanti saja narasinya. Di paragraf ujung sana. Atau di ujung tulisan ini.

Dua pekan terakhir ini saya berkutat dengan koreksi soal. Aneh, memang. Lazimnya, yang dikoreksi jawabannya. Kok, ini soalnya? Begitulah. Eh, belum. Baru begini. Maksudnya, begini ceritanya.