Cobalah berkunjung ke situs web sebuah perusahaan produsen mobil. Apa yang Anda dapati? Beralihlah ke situs web sebuah perusahaan produsen batik. Apa yang Anda dapati? Beralihlah lagi ke situs web sebuah perusahaan waralaba kedai kopi. Apa yang Anda jumpai? Lalu beralihlah ke situs web sebuah organisasi sosial. Apa yang Anda jumpai?
Bale Sinau
belajar nirwatas waktu, tempat, dan media
2022/01/20
2021/10/08
Bara di Tengah Dingin yang Beku
"Alhamdulillah. Terima kasih, Pak, pencerahannya. Sedikit demi sedikit pikiran saya jadi terbuka. Insyaallah, saya menunggu pelatihan jilid 2-nya, Pak."
Begitu, sepenggal kesaksian lugas Bu Farida. Nama lengkapnya, Farida Umaternate. Bu Guru dari Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara ini menjadi salah satu peserta pelatihan menyusun soal HOTS (Higher Order Thinking Skills). Pelatihannya berlangsung secara daring melalui salah satu platform media sosial. Jumlah pesertanya 104, terdiri dari guru-guru se-Nusantara. Ada guru PAUD, SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA. Ada pula yang berasal dari yayasan dan balai diklat. Mungkin mereka widyaiswara, instruktur, atau semacamnya.
2021/09/20
Melipatgandakan Hasil Belajar melalui Pembelajaran Kooperatif
Siji loro telu tangane sedheku,
mirengake Bu Guru menawa didangu.
Papat nuli lima lenggahe sing tata,
aja padha sembrana mundhak ora bisa.
2021/03/12
The Power of Dipaksa
Lebih dulu saya mesti menjelaskan, “dipaksa” (setidaknya, di dalam tulisan ini) berbeda makna dari “terpaksa”.
- “Karena tak punya uang, terpaksa saya berjalan kaki sambil memanggul sekarung gaplek dari rumah sampai pasar.” (Berjalan kaki menjadi keniscayaan, satu-satunya pilihan, tak ada kesanggupan lain pada diri saya.)
- “Gara-gara memecahkan kendi yang baru dibeli istri, saya dipaksa berjalan kaki dari pasar sampai rumah.” (Berjalan kaki menjadi konsekuensi yang dipilih oleh pihak lain; sebenarnya ada kesanggupan lain pada diri saya.)
Di balik itu, tiba-tiba saya berhasil mengunyah lumat dua
(calon) buku (untuk yang ini, tak usah saya tag nama; nanti malah viral).
Masing-masing butuh waktu kurang dari 2 x 24 jam. Sebab apa gerangan? Lantaran
saya DIPAKSA. Sebenarnya bukan dipaksa untuk membaca kedua manuskrip itu,
melainkan “dipaksa” untuk “berbuat sesuatu” terhadap mereka—izinkan saya
memperkenalkan pemakaian “mereka” sebagai pengganti benda jamak
nonmanusia.
Murid-murid perlu dipaksa membaca; oleh siapa? Pengasuh
murid-murid perlu dipaksa membaca; oleh siapa? Pengasuhnya pengasuh murid perlu
dipaksa membaca; oleh siapa? Siapa tahu, di antara sidang Pembaca ada yang
berkedudukan sebagai salah satu “SIAPA” itu.
Jadi terkenang juga, pengalaman masa SMP. Tiap malam
menjelang ada jadwal pelajaran IPS, saya berjibaku membaca salah satu di antara
tiga buku: ekonomi, geografi, atau sejarah. Ketiga-tiganya bukan objek minat
saya. Apa yang membuat saya rela bersusah payah membaca mereka? Kalau tidak
membaca, di kelas hanya plonga-plongo. Pak Kardi—semoga Tuhan mengampuni dan
merahmati beliau—suka membuat kami gelagapan. “Keluarkan kertas (kosong)! Tulis
apa yang kamu baca tadi malam!” Begitu instruksi beliau, yang sering diulang
dari hari ke hari.
Entah, masih ada berapa eksemplar buku yang tertumpuk di
laci. Semua pemberian teman. Beberapa dikirim atas permintaan saya. Sebagian
besar yang lain hadir atas kemurahhatian teman-teman. Mungkin saya disangka
doyan membaca. Padahal, sejatinya saya ini pemalas. Atau, tepatnya: pembaca
yang malas.
Untuk mendobrak kemalasan itu, saya sempat menghukum diri:
menunda pengambilan buku pesanan sebelum lunas utang membaca seluruh buku yang
sudah teronggok antre untuk dibuka. Tapi ternyata ulah ini berekses: penerima
pesanan pontang-panting. Maafkan saya, Pak Handry Tm, atas ketidaknyamanan
akibat eksperimen saya. Masih ada satu hibah yang tertahan, sudah lebih lama
bahkan. Kesempatan mampir juga sudah datang beberapa kali. Tapi saya tahan demi
bersetia menjalani hukuman dari, oleh, dan untuk diri sendiri itu. Maafkan saya
juga, Pakde Parpal Poerwanto.
Jadi teringat semasa sekolah. Mengakhiri kelas “Pemahaman
Lintas Budaya (CCU = Cross Cultural Understanding)”, Pak Guru memberikan
tugas. Kami harus membedah komparasi antara dua budaya: manca vs domestik.
Empat atau lima (saya lupa persisnya) buku seri mengenal negeri manca
itu—oleh-oleh yang beliau bawa pulang selepas lulus doktor di negeri
seberang—dipinjamkan. Lupa bagaimana prosesnya, saya ketiban sampur untuk medhar
gagasan komparasi dua budaya itu di depan khalayak lintas jurusan. Simsalabim,
lumat juga seluruh buku itu dalam kurun tak lebih dari seminggu. Itu rekor
kecepatan saya membaca. Hebohnya lagi, salah satunya berisi sejarah peradaban
bangsa manca itu. Ya, sejarah, sesuatu yang tak pernah singgah di etalase minat
saya.
Boleh jadi, tugas-tugas yang memaksa saya membaca itu
disengaja sebagai modus belaka. Motif sejatinya justru yang tersembunyi: agar
saya membaca! Guru-guru bestari itu sebenarnya hanya hendak mengingatkan saya
bahwa membaca itu tak pernah sia-sia. Pun mereka seperti berhasil membaca sifat
saya: malas membaca. Atau, seperti tadi: pembaca yang malas. Bisa membaca, tapi
malas.
Saya jadi curiga: jangan-jangan sifat ini bukan monopoli
saya. Gek-gek banyak (sekalipun bukan kebanyakan) pembaca malas serupa
saya. Kalau ya, berarti jurus memaksa orang membaca itu perlu disebartularkan.
Ah, tulisan bertele-tele ini pun sesungguhnya hanya modus.
Pesan yang tersembunyi: ayolah, Kawan ... paksa anak-anak asuhan Anda membaca.
Terapkan aneka jurus, sesuka Anda.
*) Tulisan ini diadaptasi dari https://www.facebook.com/kangteguhgw/posts/4397766656917324
2020/11/27
Melacak Catatan di Facebook
Ini tulisan tidak lazim. Isinya semacam tutorial. Pemantiknya, status Facebook (Fb)-nya Kang Putu Gunawan Susanto yang saya dapati sore ini. Beliau memprotes Fb lantaran menghilangkan halaman Catatan (Notes) dari fiturnya. Saya pun pernah mengalami kekecewaan serupa, 6 November yang lalu. Bedanya, protes Kang Putu disertai kebingungan akibat gagal menemukan catatan-catatannya yang sebelumnya pernah dibuat, disimpan, dan mungkin dipublikasikan.

