Siji loro telu tangane sedheku,
mirengake Bu Guru menawa didangu.
Papat nuli lima lenggahe sing tata,
aja padha sembrana mundhak ora bisa.
Siji loro telu tangane sedheku,
mirengake Bu Guru menawa didangu.
Papat nuli lima lenggahe sing tata,
aja padha sembrana mundhak ora bisa.
Lebih dulu saya mesti menjelaskan, "dipaksa" (setidaknya, di dalam tulisan ini) berbeda makna dari "terpaksa".
1) "Karena tak punya uang, terpaksa saya berjalan kaki sambil memanggul sekarung gaplek dari rumah sampai pasar." (Berjalan kaki menjadi keniscayaan, satu-satunya pilihan, tak ada kesanggupan lain pada diri saya.)
2) "Gara-gara memecahkan kendi yang baru dibeli istri, saya dipaksa berjalan kaki dari pasar sampai rumah." (Berjalan kaki menjadi konsekuensi yang dipilih oleh pihak lain; sebenarnya ada kesanggupan lain pada diri saya.)
Ini tulisan tidak lazim. Isinya semacam tutorial. Pemantiknya, status Facebook (Fb)-nya Kang Putu Gunawan Susanto yang saya dapati sore ini. Beliau memprotes Fb lantaran menghilangkan halaman Catatan (Notes) dari fiturnya. Saya pun pernah mengalami kekecewaan serupa, 6 November yang lalu. Bedanya, protes Kang Putu disertai kebingungan akibat gagal menemukan catatan-catatannya yang sebelumnya pernah dibuat, disimpan, dan mungkin dipublikasikan.
![]() |
| Barisan pendidik muda yang terdidik dan bertalenta |
![]() |
| Jurnalis SANG GURU Edhie Prayitno Ige di Depan 25 Guru SI JURNALIS |
Bermental penantang! Itu barangkali label yang pas untuk menggambarkan spirit guru-guru ini. Betapa tidak? Dua pekan sebelumnya, seorang provokator berulah di grup WhatsApp komunitas mereka. Begini provokasinya:
STOP PRESS